Adventure Midwife
Novita N R
Rabu, 30 Maret 2016
RESUM JURNAL HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG HIV/AIDS DAN VCT DENGAN SIKAP TERHADAP KONSELING DAN TES HIV/AIDS SECARA SUKARELA DIPUSKESMAS KARANGDORO SEMARANG
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus golongan Rubonucleat Acid (RNA) yang spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh / imunitas manusia dan menyebabkan Aqciured Immunodeficiency Symndrome (AIDS). HIV positif adalah orang yang telah terinfeksi virus HIV dan tubuh telah membentuk (zat anti) terhadap virus.mereka berpotensi sebagai sumber penularan bagi orang lain.
Sampai tahun 2011 organisasi kesehatan dunia (WHO) mencatat jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh dunia meningkat jumlahnya hingga mencapai 5,2 juta jiwa. Namun, resiko ini dapat diturunkan menjadi 1-2 % dengan tindakan intervensi bagi ibu hamil HIV positif, yaitu melalui layanan konseling dan tes HIV sukarela, pemberian obat antiretroviral, persalinan sectio caesaria, serta pemberian susu formula untuk bayi (Depkes RI,2008).
Angka kejadian HIV/AIDS kota semarang menduduki peringkat ke – 4 tertinggi di jawa Tengah. Dengan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan pencegahan perluasan transmisi HIV ke dalam keluarga melalui : deteksi dini kasus HIV dalam keluarga melalui pemeriksaanibu hamil resiko tinggi yaitu ibu hamil dengan syndrom IMS (Infeksi Menular Seksual), ibu hamil dengan suami kelompok potensial, melalui pemeriksaan IMS, VCT (Voluntary councelling and Test).
Pada periode ini direncanakan program akan difokuskan di wilayah kerja puskesmas yang dianggap memiliki populasi beresiko. Metode yang dipandang efektif adalah dengan menggunakan metode Mobile VCT yaitu petugas datang langsung kemasyarakat untuk melakukan VCT.
Peran bidan dalam sosialisasi tes HIV / AIDS dan VCT bagi ibu hamil yang mempunyai faktor resiko tersebut sangat penting untuk menurunkan bahkan mencegah kejadian penularan HIV / AIDS dari ibu hamil kepada janinnya atau dinyatakan sebagai program PMTCT. Mengingat tugas bidan yang merupakan ujung tombak dalam pelayanan ANC khususnya pada ibu hamil yang mempunyai faktor resiko tertular HIV / AIDS.
Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi dengan menggunakan pendekatan cross sectionsal yang dilakukan pada bulan juli – agustus 2011. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner.Dari hasil penelitian di dapatkan tidak sedikit pula yang masih beranggapan kurang tepat terhadap konseling dan Tes HIV/AIDS. Tetapi pemgetahuan ibu hamil tentang HIV / AIDS dan VCT di Puskesmas karangdowo Semarang termasuk dalam kategori baik sebanyak 28 responden (62,2%). Dan sikap ibu hamil termasuk dalam kategori baik terhadap konseling tes HIV/ AIDS yaitu sebanyak 26 responden (57,8%). Hal ini menunjukan adanya sikap yang positif atau setuju terhadap VCT (Voluntary Counceling and Test) yang dilakukan di puskesmas karangdoro Semarang. Dengan ini sudah dapat terbaca bahwa sikap yang baik dapat terbentuk dari pengetahuan yang baik. Adanya semua ini bisa tercapai karena peran serta dari berbagai pihak untuk mendudkung semua program untuk kesehatan ibu hamil khususnya, agar kesehatan baik ibu hamil ataupun janin yang dikandung sehat dan tidak tertulat virus HIV/ AIDS.
Senin, 28 Maret 2016
PROMOSI KESEHATAN PROGRAM KONSUMSI TABLET FE UNTUK IBU HAMIL
Anemia gizi besi pada ibu hamil masih merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi. Penyebab utama anemia ini adalah kekurangan zat besi (Fe). Konsekuensi anemia pada ibu hamil dapat membawa pengaruh buruk baik terhadap kesehatan ibu maupun janinnya, keadaan ini dapat meningkatkan morbiditas maupun mortalitas ibu dan anak. Prevalensi anemia ibu hamil belum mengalami perubahan dari tahun 1995-2000, namun Departemen Kesehatan Republik Indonesia sampai dengan tahun 2010 akan berusaha menurunkan prevalensi anemia ibu hamil dari 51% menjadi 40% (Departemen Kesehatan, 1999). Anemia dalam kehamilan akan berdampak buruk bagi bayi dalam kandungannya. Dampak buruk tersebut bisa berupa bayi yang lahir mengalami cacat bawaan. Dampak terburuk adalah kematian bayi. Dampak lain anemia bagi hamil adalah keguguran. Bayi lahir prematur, persalinan lama karena tidak ada kontraksi, pendarahan sesudah melahirkan, dan infeksi persalinan (Tino , 2009).
Untuk menanggulangi masalah anemia gizi besi pada ibu hamil maka pemerintah melalui departemen kesehatan (Depkes) RI melaksanakan suatu program pemberian tablet zat besi pada ibu hamil. Menurut peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor 88 tahun 2014 tambah darah merupakan tablet yang salah satunya diberikan kepada ibu hamil setiap hari selama kehamilan atau minimal 90 tablet.
Seperti yang dinyatakan pada jurnal “Peran Petugas Kesehatan dan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe pada Ibu Hamil” ada beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya cangkupan konsumsi tablet fe yaitu peran petugas kesehatan. Bidan sendiri merupakan ujung tombak dari kesehatan di masyarakat. Sehingga bidan harus bisa meningkatkan cangkupan konsumsi tablet Fe salah satunya dengan promosi kesehatan. Salah satu promosi kesehatan yang dapat dilakukan guna meningkatkan cakupan konsumsi tablet fe untuk ibu hamil dengan melakukan penyuluhan maupun konseling. Penyuluhan dapat dilakukan ketika adanya pertemuan ibu hamil seperti pada kelas ibu hamil, dan konseling pada saat kunjungan ANC. Bidan menjelaskan kepada ibu hamil akan pentingnya mengkonsumsi tablet zat besi, yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan zat besi untuk ibu dan bayi. Dimana untuk bayi dapat mencegah kelahiran prematur dan bayi berat lahir rendah. Tablet fe sangat penting untuk pertumbuhan janin selama masa kehamilan sehingga apabila ibu hamil cukup mengkonsumsi tablet Fe dapat meminimalisir cacat bawaan pada bayi atau kelainan kongenital.
Manfaat untuk ibu sendiri yaitu salah satunya untuk mencegah perdarahan saat dan setelah persalinan. Karena perdarahan merupakan salah satu faktor penyebab kematian ibu. Bidan juga menjelaskan cara mengkonsumsi tablet Fe yang benar dengan bersamaan vitamin c atau air jeruk, tidak dengan susu, kopi atau teh. Dan efek samping mengkonsumsi tablet Fe salah satunya mual, sehingga ibu hamil di anjurkan mengkonsumsi pada malam hari.
Promosi kesehatan konsumsi tablet Fe pada Ibu hamil tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan atau pun konseling saja, tetapi bidan bisa juga menggunakan gambar seperti poster dan spanduk yang di pasang tidak hanya di pelayanan kesehatan, tetapi juga bisa di tempat umum seperti papan informasi di tempat umum. Selain itu, penyebaran liflet tentang tablet Fe sangat penting dilakukan. karena selain mendapatkan informasi langsung dari bidan, ibu hamil dapat membaca atau mengulas kembali ketika di rumah dengan membaca liflet tablet Fe yang telah diberikan.
Promosi kesehatan konsumsi tablet Fe untuk ibu hamil tidak hanya dilakukan oleh bidan saja, bidan bisa bekerja sama dengan kader- kader yang ada di Desa untuk ikut berpartisipasi dalam menjalankan progran konsumsi tablet Fe untuk ibu hamil. Bidan memberikan pengarahan dan pengetahuan kepada kader – kader sehingga kader dapat membantu menyadarkan masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi tablet Fe untuk ibu hamil.
Senin, 21 Maret 2016
Anemia dalam kehamilan
1.
Anemia Kehamilan
a. Definisi
Anemia
dalam kehamilan didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin
kurang dari 11 g/dl selama masa kehamilan pada trimester 1 dan ke 3 dan kurang
dari 10 g/dl selama masa post partum dan trimester 2 (Proverawati, 2009).
Anemia adalah keadaan di mana jumlah
eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun. Sebagai akibatnya,
ada penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Selama
kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya disebabkan oleh defisiensi besi,
sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukan besi yang tidak
adekuat.
b. Klasifikasi Anemia Kehamilan
1)
Anemia
Defisiensi Besi sebanyak 62,3%
Anemia
defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah.
2)
Anemia
Megaloblastik sebanyak 29%
Anemia ini
disebabkan karena defisiensi asam folat (pterylglutamic acid) dan defisiensi
vitamin B12 walaupun jarang.
3)
Anemia
Hipolastik dan Aplastik sebanyak 8%
Anemia
disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu membuat sel - sel darah
baru.
4)
Anemia
hemolitik sebanyak 0,7%
Anemia
disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari
pada pembuatanya.
c. Etiologi
Anemia dalam kehamilan
Menurut
Marmi (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada
umumnya adalah :
1)
Kurang
gizi (malnutrisi)
2)
Kurang
zat besi dalam diet
3)
Malabsorpsi
4)
Kehilangan
darah yang banyak : persalinan yang lalu, haid, dan lain-lain
5)
Penyakit-penyakit
kronik : TBC, paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.
d.
Tanda
dan Gejala Anemia
Tanda
gejala ibu hamil yang mengalami anemia antara lain : ibu mengeluh lemah, pucat,
mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia
defisiensi (Sarwono, 2009)
Anemia dapat menyebabkan tanda dan
gejala (Varney, 2006) yaitu :
1)
Letih,
sering mengantuk, malaise
2)
Pusing,
lemah
3)
Nyeri
kepala
4)
Luka
pada lidah
5)
Kulit
pucat
6)
Membran
mukosa pucat (misal conjungtiva)
7)
Bantalan
kuku pucat
8)
Tidak
ada nafsu makan, mual dan muntah
e. Faktor risiko terjadi anemia pada ibu hamil
1) Asupan
zat besi yang rendah
Ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat
besi yang masuk ke dalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat besi. Kurangnya
jumlah besi total dalam makanan dan kualitas besi yang tidak baik di mana bahan
makanan yang dikonsumsi banyak mengandung serat, rendah besi, rendah vitamin C,
rendah folat dan rendah riboflavin. Kehilangan nafsu makan dan ketidak
keteraturan mengkonsumsi suplementasi tablet besi merupakan penyebab asupan zat
besi yang rendah (Kraemer and Zimmermann, 2007).
2) Kehilangan
besi
Insidens diare terutama terjadi pada kebanyakan negara
berkembang yang cukup tinggi, infeksi cacing tambang, skistosomiasis,
menimbulkan defisiensi besi juga malabsorbsi zat besi. Serangan malaria yang
berulang di daerah endemik malaria, dapat menimbulkan anemia karena defisiensi
zat besi. Penyakit malaria pada ibu hamil yang menderita anemia defisiensi zat
besi dapat memperparah derajat anemianya (Kraemer and Zimmermann, 2007).
3) Peningkatan
kebutuhan zat besi
Terdapat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa
kehamilan. Meningkatnya kebutuhan zat besi selama kehamilan untuk memenuhi
kebutuhan pertumbuhan fetus, pertumbuhan plasenta, dan peningkatan
jumlah sel darah merah ibu (Arisman, 2004). Kebutuhan zat besi meningkat secara
linier sesuai dengan umur kehamilan. Selama kehamilan, jumlah rata-rata
kebutuhan zat besi ibu hamil sekitar 840 mg. Sekitar 350 mg besi ditransfer ke
janin dan plasenta, dan 450 mg besi untuk pertambahan eritrosit maternal, karena
itu seorang ibu hamil diperkirakan membutuhkan 5,6 mg zat besi setiap hari
selama trimester II-III kehamilannya (Seri Ani, 2013).
4) Gangguan
absorbsi besi
Gangguan absorbsi besi disebabkan oleh tropical sprue atau
colitis kronis dan seseorang yang telah
mengalami gastrektomi (Seri Ani, 2013). Bahan makanan penduduk negara
berkembang banyak berasal dari sumber nabati dengan bioavailabilitas yang
rendah dan memiliki absorbsi zat besi yang buruk, banyak mengandung zat
penghambat absorpsi (pitat, tanin dan polifenol) sedangkan zat pemicunya
sedikit (Gibney, 2008).
f.
Patofisiologi
anemia dalam kehamilan
Barbara (2005), menyakatan :
1)
Kadar
hemoglobin untuk wanita tidak hamil biasanya adalah 13,5 g/Dl. Namun hemoglobin
selama trimester kedua dan ketiga kehamilan berkisar 11,6 g/ dl sebagai akibat
pengenceran darah ibu karena peningkatan volume plasma. Ini disebut sebagai
anemia fisiologi dan merupakan keadaan yang normal selama kehamilan.
2)
Selama
kehamilan, zat besi tidak dapat dipenuhi secara adekuat dalam makanan sehari –
hari. Zat makanan seperti susu, teh, dan kopi, menurunkan absorpsi besi. Selama
kehamilan, tambahan zat besi diperlukan untuk meningkatkan sel – sel darah
merah ibu dan transfer ke janin untuk menyimpan dan produksi sel – sel darah
merah. Janin harus menyimpan cukup zat besi pada 4 sampai 6 bulan terakhir
setelah kelahiran.
3)
Selama
trimester ketiga, jika asupan besi wanita tersebut tidak memadai, hemoglobinnya
tidak akan meningkat sampai nilai 12,5 g / dl dan dapat terjadi anemia karena
nutrisi. Ini akan mengakibatkan penurunan transfer zat besi ke janin.
4)
Hemoglobinopati,
seperti thalasemia, penyakit sel sabit mengakibatkan anemia melalui hemolisis
atau peningkatan penghancuran sel – sel darah merah.
g.
Diagnosis anemia dalam kehamilan
Untuk
menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dengan anamnesa. Pemeriksaan dan
pengawasan hemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil
pemeriksaan hemoglobin dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
9)
Hb
11gr% : tidak anemia
10)
Hb
9-10gr% : anemia ringan
11)
Hb
7-8gr% : anemia sedang
12)
Hb
< 7gr% : anemia berat
Pemeriksaan Hb dilakukan minimal dua kali selama
kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III., dengan
pertimbangan bahwa besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian
preparat besi sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di Puskesmas (Manuaba, 2010).
h.
Akibat
anemia kehamilan
Atika (2009), akibat yang akan terjadi pada anemia
kehamilan adalah :
1)
Hamil
muda (trimester pertama) : abortus, missed abortus, dan kelainan congenital.
2)
Trimester
kedua : persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin,
dalam rahim, asphixia intrauterin samapi kematian, berat badan lahir rendah
(BBLR), gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah, dekompensatio kordiskematian
ibu.
3)
Saat
inpartu : gangguan his primer dan sekunder, janin lahir dengan anemia,
persalinan dengan tindakan tinggi, ibu cepat lelah, gangguan perjalanan
persalinan perlu tindakan operatif.
4)
Pascapartus
: ormon uteri menyebabkan perdarahan, retensio ormone (plasenta adhesive,
plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta), perlukaan sukar sembuh,
mudah terjadi febris peurperalis, gangguan involusi uteri, kematian ibu tinggi
(perdarahan, infeksi peurperalis, gestosis).
i.
Pencegahan
dan pengobatan anemia dalam kehamilan
1)
Pencegahan
anemia dalam kehamilan
Untuk mencegah terjadinya anemia
sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat
diketahui data dasar kesehatan ibu tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan
disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui
adanya infeksi parasit.
Untuk
daerah dengan frekuensi anemia kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita
hamil diberi sulfas ferrous atau glukonat ferrosus 1 tablet sehari. Selain itu,
wanita dinasehatkan pula untuk mengkonsumsi lebih banyak protein, mineral dan
vitamin. Makanan yang kaya zat besi antara lain kuning telur, ikan segar dan
kering, hati daging, kacang – kacangan dan sayuran hijau. Makanan yang kaya
akan asam folat yaitu daun singkong, bayam, sawi hijau, sedangkan makanan yang
mengandung vitamin C adalah jeruk tomat, mangga, pepaya dan lain – lain (
Wiknjosastro, 2006).
2)
Penanganan
anemia dalam kehamilan
a)
Anemia
ringan
Dengan kadar Hemoglobin (Hb) 9 – 10 gr% masih
dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg/hari besi dan
400 mg asam folat peroral sekali sehari (Arisman, 2006).
b)
Anemia
sedang
Pengobatan dengan kombinasi 120 mg zat besi dan 500
mg asam folat peroral sekali sehari (Arisman, 2006).
c)
Anemia
berat
Pemberian preparat parental yaitu dengan fero
dextrin sebanyak 1000 mg (20ml) intravena atau 2 x 10 ml intramuskuler.
Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang
diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin (Sarwono, 2008).
Senin, 14 Maret 2016
Sabtu, 27 September 2014
A.
Teori Kejang Demam
1.
Pengertian
Kejang demam adalah kejang
yang dihubungkan dengan suatu penyakit yang dicirikan dengan demam tinggi (
suhu 38,9 C – 40,0 C) . Kejang demam berlangsung kurang dari 15 menit,
generalisata, dan terjadi pada anak- anak tanpa kecacatan neurologik (Marry,
2005).
Kejang demam ( febrile seizure) merupakan kejang
tonik-klonik yang menyeluruh disertai demam, sumber panas itu sendiri berada
diluar sistem saraf pusat (Kathleen, 2008)
Kejang demam adalah Kejang umum yang memiliki pencetus dan
terjadi pada penyakit demam akut ada anak yang sehat (william, M. 2005). Kejang demam adalah bangkitan kejang
yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rektal lebih dari 38 C) yang
disebabkan oleh suatu proses step (bulan, ayu.
2010).
2.
Etiologi
Menurut Mary (2005), etilogi kejang demam sendiri
belum diketahui. Kejang demam biasanya dikaitkan dengan infeksi saluran
pernafasan atas, infeksi saluran kemih, dan raseola.
Menurut Lumbantobing (2007), etiologi kejang demam adalah:
a. Demam itu sendiri, demam
yang disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, otitis media, pneumonia,
gastroentritis dan infeksi saluran kemih.
b. Efek produk toksik dari
pada mikroorganisme.
c. Respon alergik atau
keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
d. Perubahan keseimbangan
cairan dan elektrolit.
e. Ensefalitis viral (
radang otak akibat virus ) yang ringan
3.
Patofisiologi
Menurut Marry (2005), patofisiologi kejang demam adalah :
a. Umumnya, kejang dicirikan
dengan pola tonik-klonik aktif. Biasanya berlangsung tidak lebih dari 1 menit
dan dikaitkan dengan kondisi akut penyakit demam yang tidak berbahaya.
b. Kejang biasanya terjadi
sebagai akibat peningkatan suhu yang cepat, diawali dengan demam.
c.
Kejang demam dianggap tidak berbahaya apabila masalah fisik dan neurologik yang
mendasarinya telah diatasi.
4.
Faktor resiko yang berhubungan dengan kejang demam
a.
Faktor umur
Faktor umur merupakan salah satu
faktor resiko utama yang berhubungan dengan kejang demam karena hal ini erat
kaitannya dengan kematangan otak, tingkat kematangan otak dalam bidang anatomi,
fisiologi dan biokimiawi otak
(Lumbantobing, 2007).
Tahap perkembangan otak dibagi
menjadi 6 fase, neurulasi, perkembangan
prosensefali, proloferasi neuron, organisasi dan mielinisasi. Tahapan perkembangan otak
intrauteri dimulai pada fase neurulasi sampai migrasi neural. Fase perkembangan
organisasi dan mielinisasi masih berlanjut sampai bertahun-tahun sampai
pascanatal. Sehingga kejang demam terjadi pada fase perkembangan tahap
organisasi sampai mielinisasi. Fase perkembangan otak merupakan fase yang rawan
apabila mengalami bangkitan kejang terutama fase perkembangan organisasi
meliputi: diferensiasi dan pemantapan neuron pada subplate, pencocokan,
orientasi, dan peletakan neuron pada korteks,
pembentukkan cabang neurit dan dendrit,
pemantapan kontak di sinapsis, kematian sel terprogram, proliferasi dan
diferensiasi sel glia. Pada proses diferensiasi dan pemantapan neuron pada
subplate, terjadi diferensiasi neurotransmitor eksitator dan inhibitor.
Pembentukan reseptor untuk eksitator lebih awal dibandingkan inhibitor. Pada
proses pembentukkan cabang-cabang akson ( dendrit dan neurit ) serta
pembentukan sinapsis, terjadi kematian sel terprogram dan plastisitas.Terjadi
proses eliminasi sel neuron yang tidak terpakai. Sinapsis yang dieleminasi
sekitar 40%. Proses ini disebut regeresif.Sel neuron yang tidak terkena proses
kematian program bahkan terjadi pembentukan sel baru disebut palstisitas.
Proses tersebut terjadi sampai anak berusia 2 tahun. Apabila masa proses
regresif terjadi bangkitan kejang demam
dapat mengakibtakan trauma pada sel neuron sehingga mengakibatkan
modifikasi proses regresif. Apabila pada fase organisasi ini terjadi rangsangan
berulang-ulang seperti kejang demam akan mengakibatkan aberran palstisity,
yaitu penurunan fungsi GABA-ergic dan desensitisasi reseptor GABA dan serta
sensitisasi reseptor esksitator. Pada keadaan otak belum matang, reseptor untuk
asam glutamat sebgaai reseptor eksitator padat dan aktif, sebaliknya reseptor
GABA sebagai inhibitor kurang aktif, sehingga otak belum matang eksitasi lebih dominan
dibanding inhibisi. Corticotropin realising hormon (CRH) merupakan neuropeptid
eksitator, berpotensi sebagai prokonvulsan. Pada otak belum matang kadar CRH di
hipokampus tinggi. Kadar CRH tinggi di hipokampus berpotensi untuk terjadi
bangkitan kejang apabila terpicu oleh demam. Mekanisme homeostatis pada otak
belum matang atau masih lemah, akan berubah sejalan dengan perkembangan otak
dan pertambahan usia, meningkatkan eksitabilitas neuron. Atas dasar uraian di
atas, pada masa otak belum matang mempunyai eksitabilitas neural lebih tinggi
dibandingkan otak yang sudah matang. Pada masa ini disebut developtmental
window dan rentan terhadap bangkitan kejang. Eksitator lebih dominan
dibandingkan inhibitor sehingga tidak ada keseimbangan antara eksitator dan
inhibitor. Anak mendapat serangan bangkitan kejang pada usia awal developmental window mempunyai waktu
lebih lama fase eskitabilitas neural dibandingkan anak yang mendapatkan
serangan kejang demam pada usia akhir masa developmental
window. Apabila anak mengalami stimulasi demam pada otak fase ekstabilitas
akan mudah terjadi bangkitan kejang. Developmental merupakan masa perkembangan
otak fase organisasi yaitu pada waktu anak berusia kurang dari 2 tahun (
Soetomenggolo, 2007).
Umur dapat menentukan kemungkinan
terjadinya penyakit tartentu sepanjang jangka hidup. Kerentanan terhadap
infeksi berubah, bayi sangat rentan terhadap infeksi, lahir dengan hanya
memiliki anti body dari ibu, sistem imunimatur bayi belum mampu menghasilkan
immunoglobulin yang diperlukan. Kejang demam merupakan kelainan neorologis yg
paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan anak 6 bulan sampai 5
tahun ( Ngastiyah, 2005).
b. Faktor suhu tubuh.
Demam apabila hasil pengukuran
suhu tubuh mencapai diatas 37,8°C aksila atau 38°C rektal. Demam dapat
disebabkan oleh berbagai sebab, tetapi pada anak tersering disebabkan oleh
infeksi. Demam merupakan faktor utama timbul bangkitan kejang demam. Perubahan
kenaikan temperatur tubuh berpengaruh terhadap nilai ambang kejang dan ekstabilitas
neural, karena kenaikan suhu tubuh berpengaruh pada kanal ion dan metabolisme
seluler serta produksi ATP. Setiap kenaikan suhu tubuh satu derajat celsius
akan meningkatkan metabolisme karbohidrat 10-15% sehingga dengan adanya
peningkatan suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukosa dan oksigen.
Pada demam tinggi akan mengakibatkan hipoksia jaringan termasuk jaringan otak.
Pada keadaan metabolisme di siklus skreb normal, satu molekul glukosa akan
menghasilkan 38 ATP, sedangkan pada keadaan hipoksia jaringan metabolisme
anaerob, satu molekul glukosa hanya akan menghasilkan 2 ATP, sehingga pada
keadaan hipoksia akan kekurangan energi, hal ini akan mengganggu fungsi normal
pompa Na+ dan reuptake asam glutamat oleh sel glia. Kedua hal
tersebut mengakibatkan masuknya ion Na+ ke dalam sel meningkat dan
timbunan asam glutamat ekstrasel. Timbunan asam glutamat ekstrasel akan
mengakibatkan permeabilitas membran sel terhadap ion Na+ sehingga
semakin meningkatkanmasuknya ion Na+ ke dalam sel. Masuknya ion Na+
ke dalam sel dipermudah dengan adanya demam, sebab demam akan
meningkatkan mobilitas dan benturan ion terhadap membran sel. Perubahan
konsentrasi ion Na+ intrasel dan ekstrasel tersebut akan
mengakibatkan perubahan potensial membran sel neuron sehingga membran sel dalam
keadaan depolarisasi. Selain itu demam dapat merusak neuron GABA-ergik sehingga
fungsi inhibisi terganggu ( Abdoerrachman, 2007).
Friedrichsen dan Melchior dalam
penelitiannya membagi anak yang demam dalam 2 kelompok yaitu yang mempunyai suhu
dibawah 39°C dan yang di atasnya. Didapatkannya bahwa insiden kejang demam pada
kelompok anak demam yang bersuhu dibawah 39°C adalah 24% dan di atas 39°C
adalah 64%. Tingginya suhu tubuh pada keadaan demam sangat berpengaruh
terjadinya bangkitan kejang demam karena pada suhu tubuh yang tinggi dapat
meningkatkan metabolisme tubuh sehingga terjadi perbedaan potensial membran di
otak yang akhirnya melepaskan muatan listrik dan menyebar ke seluruh tubuh ( Lumbantobing, 2007 ).
c. Faktor riwayat keluarga
Mekanisme peranan faktor riwayat
keluarga pada terjadinya kejang demam terutama disebabkan oleh adanya mutasi
gen-gen tertentu yang mempengaruhi esktabilitas ion-ion pada membran sel.
Mekanisme yang mempengaruhi peristiwa tersebut sangat kompleks. Secara teoritis
defek yang diturunkan pada tiap-tiap gen pengkode protein yang menyangkut
ekstabilitas neuron dapat mencetuskan bangkitan kejang (Lumbantobing, 2007).
Penelitian yang dilakukan oleh lumbantobing mendapatkan hasil bahwa 20-25%
penderita kejang demam mempunyai riyawat keluarga yang juga pernah menderita
kejang demam.
d. Faktor usia saat ibu hamil
Menurut Soetomenggolo (2007),
usia ibu pada saat hamil sangat menentukan status kesehatan bayi yang akan
dilahirkan. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dapat
mengakibatkan berbagai komplikasi kehamilan dan persalinan, komplikasi
kehamilan diantaranya hipertensi dan eklampsia, sedangkan gangguan pada
persalinan adalah trauma persalinan. Komplikasi kehamilan dan persalinan dapat
menyebabkan prematuritas, bayi berat lahir rendah, penyulit persalinan dan
partus lama. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan janin dengan asfiksia. Pada
asfiksia terjadi hipoksia dan iskemia. Hipoksia dapat mengakibatkan rusaknya
faktor inhibisi dan atau meningkatnya fungsi neuron eksitasi sehingga mudah
timbul kejang bila ada rangsangan yang memadai.
e. Lama demam sebelum kejang.
Makin pendek jarak antar mulainya
demam dengan terjadinya kejang demam, makin besar risiko berulangnya kejang
demam.
5.
Manifestasi Klinis
Menurut Sujono (2009), manifestasi klinis yang
muncul pada penderita kejang demam adalah :
a. Suhu tubuh anak lebih
dari 38°C.
b. Timbul kejang yang
bersifat tonik-klonik, klonik, fokal atau akinetik. Beberapa detik setelah
kejang berhenti anak tidak memberikan reaksi apapun tetapi beberapa saat
kemudian anak akan tersadar kembali tanpa ada kelainan persyarafan.
c. Terjadi penurunan
kesadaran.
Sedangkan menurut Mansjoer ( 2008 ), umumnya kejang demam
berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral.
Kejang yang lain juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai
kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan,
atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
Abdoerrachman (2007), mengklasifikasikan kejang demam menjadi:
1) Kejang demam sederhana ( simple febrile seizures
)
Merupakan
kejang demam dengan karakteristik:
a) Kejang demam yang berlangsung singkat, umumnya
serangan akan berhenti sendiri dalam
waktu kurang dari 15 menit.
b) Bangkitan kejang tonik atau tonik-klonik, tanpa
gerakan fokal.
c) Kejang akan terjadi dengan peningkatan suhu 37,8 0C
sampai dengan 38 0C.
d) Tidak berulang dalam waktu 24 jam, atau hanya
terjadi sekali dalam 24 jam.
e) Keadaan nurologi normal dan setelah kejang juga
tetap normal.
f) EEG ( electro enchephalography-rekaman otak ) yang
dibuat setelah tidak demam adalah normal.
2) Kejang demam kompleks ( complex febrile seizures
)
Merupakan
kejang demam dengan karakteristik:
a) Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit.
b) Kejang fokal (parsial satu sisi), atau kejang umum
didahului kejang parsial lebih dar 1 kali dalam 24 jam.
c) Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
dengan suhu dengan ambang kejang tinggi yaitu pada suhu 40 0C.
6. Komplikasi
Komplikasi tergantung pada :
a. Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
b. Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf
sebelum anak menderita demam kejang
c. Kejang berlangsung lama atau kejang tikal
Bila terdapat paling sedikit 2
atau 3 faktor tersebut diatas, maka dikemudian hari akan mengalami serangan
kejang tanpa demam sekitar 13 % dibandingkan bila hanya 1 atau tidak ada sama
sekali faktor tersebut. Serangan kejang tanpa demam hanya 2-3% saja.
Hemiparesis biasanya terjadi pada klien yang mengalami kejang lama (
berlangsung lebih dari 30 menit) ( Ngastiyah, 2005).
Demam kejang sederhana menyebabkan kelainan pada IQ
tetapi pada klien demam kejang yang sebelumnya telah terdapat gangguan
perkembangan atau kelainan neurologist akan didapat IQ yang lebih rendah
disbanding dengan saudaranya, jika demam kejang diikuti dengan terulangnya
kejang tanpa demam, retardasi mental akan terjadi 5 kali lebih besar.
Demam kejang yang beralngsung lama dapat
menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsy.( Ngastiyah,
2005).
7. Tata laksana untuk kejang
Penata laksanaan kejang
demam menurut ( Widjaja, 2006) :
Jika anak sudah terlanjur
menderita kejang demam, hindarilah rasa panik dan lakukan langkah – langkah
pertolongan sebagai berikut :
a)
Bila anak mengalami kejang demam berusia di bawah enam bulan,
tindakan yang harus dilakukan sebagai berikut :
a.
Telungkupkan dan palingkan wajahnya kesamping.
b.
Ganjal perutnya dengan bantal agar ia tidak tersedak.
c.
Lepaskan seluruh pakaiannya dan basahi tubuhnya dengan air
hangat. Langkah ini diperlukan untuk membantu menurunkan suhu badannya.
d.
Bila anak muntah, bersihkanlah mulutnya dengan jari.
e.
Walaupun anak telah pulih kondisinya, sebaiknya tetap dibawa
kedokter agar dapat ditangani lebih lanjut.
f.
Jangan mengabaikan gejala kejang demam dengan tidak
membawanya kedokter. Dengan mempertimbangkan akibat yang dapat terjadi, anak
yang menderita kejang demam harus memperoleh penanganan dokter sehingga
keselamatannya dan kesehatannya senantiasa terjaga dengan baik.
b) Bila anak balita yang
mengalami kejang demam berusia lebih dari 6 bulan, tindakan dan prosedur yang
harus dilakukan pada dasarnya sama dengan anak dibawah 6 bulan. Perbedaannya
pada tindakan yang ditujukan pada mulut anak, yaitu harus diganjal dengan
sendok yang sudah dibungkus perban. Tujuannya agar lidah nya tidak tergigit
atau saluran pernapasannya tidak tersumbat.
Langganan:
Postingan (Atom)


