Assalamualaikum, Wr. Wb


Senin, 21 Maret 2016

Anemia dalam kehamilan



1.    Anemia Kehamilan
a.    Definisi
Anemia dalam kehamilan didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl selama masa kehamilan pada trimester 1 dan ke 3 dan kurang dari 10 g/dl selama masa post partum dan trimester 2 (Proverawati, 2009).
Anemia adalah keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun. Sebagai akibatnya, ada penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Selama kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya disebabkan oleh defisiensi besi, sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukan besi yang tidak adekuat.
b.    Klasifikasi Anemia Kehamilan
1)   Anemia Defisiensi Besi sebanyak 62,3%
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah.
2)   Anemia Megaloblastik sebanyak 29%
Anemia ini disebabkan karena defisiensi asam folat (pterylglutamic acid) dan defisiensi vitamin B12 walaupun jarang.
3)   Anemia Hipolastik dan Aplastik sebanyak 8%
Anemia disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu membuat sel - sel darah baru.
4)   Anemia hemolitik sebanyak 0,7%
Anemia disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pada pembuatanya.
c.    Etiologi Anemia dalam kehamilan
Menurut Marmi (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada umumnya adalah :
1)   Kurang gizi (malnutrisi)
2)   Kurang zat besi dalam diet
3)   Malabsorpsi
4)   Kehilangan darah yang banyak : persalinan yang lalu, haid, dan lain-lain
5)   Penyakit-penyakit kronik : TBC, paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.
d.   Tanda dan Gejala Anemia
Tanda gejala ibu hamil yang mengalami anemia antara lain : ibu mengeluh lemah, pucat, mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi (Sarwono, 2009)
Anemia dapat menyebabkan tanda dan gejala (Varney, 2006) yaitu :
1)   Letih, sering mengantuk, malaise
2)   Pusing, lemah
3)   Nyeri kepala
4)   Luka pada lidah
5)   Kulit pucat
6)   Membran mukosa pucat (misal conjungtiva)
7)   Bantalan kuku pucat
8)   Tidak ada nafsu makan, mual dan muntah
e.    Faktor risiko terjadi anemia pada ibu hamil
1)   Asupan zat besi yang rendah
Ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat besi yang masuk ke dalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat besi. Kurangnya jumlah besi total dalam makanan dan kualitas besi yang tidak baik di mana bahan makanan yang dikonsumsi banyak mengandung serat, rendah besi, rendah vitamin C, rendah folat dan rendah riboflavin. Kehilangan nafsu makan dan ketidak keteraturan mengkonsumsi suplementasi tablet besi merupakan penyebab asupan zat besi yang rendah (Kraemer and Zimmermann, 2007).
2)   Kehilangan besi
Insidens diare terutama terjadi pada kebanyakan negara berkembang yang cukup tinggi, infeksi cacing tambang, skistosomiasis, menimbulkan defisiensi besi juga malabsorbsi zat besi. Serangan malaria yang berulang di daerah endemik malaria, dapat menimbulkan anemia karena defisiensi zat besi. Penyakit malaria pada ibu hamil yang menderita anemia defisiensi zat besi dapat memperparah derajat anemianya (Kraemer and Zimmermann, 2007).
3)   Peningkatan kebutuhan zat besi
Terdapat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa kehamilan. Meningkatnya kebutuhan zat besi selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan fetus, pertumbuhan plasenta, dan peningkatan jumlah sel darah merah ibu (Arisman, 2004). Kebutuhan zat besi meningkat secara linier sesuai dengan umur kehamilan. Selama kehamilan, jumlah rata-rata kebutuhan zat besi ibu hamil sekitar 840 mg. Sekitar 350 mg besi ditransfer ke janin dan plasenta, dan 450 mg besi untuk pertambahan eritrosit maternal, karena itu seorang ibu hamil diperkirakan membutuhkan 5,6 mg zat besi setiap hari selama trimester II-III kehamilannya (Seri Ani, 2013).
4)   Gangguan absorbsi besi
Gangguan absorbsi besi disebabkan oleh tropical sprue atau colitis kronis dan seseorang yang telah mengalami gastrektomi (Seri Ani, 2013). Bahan makanan penduduk negara berkembang banyak berasal dari sumber nabati dengan bioavailabilitas yang rendah dan memiliki absorbsi zat besi yang buruk, banyak mengandung zat penghambat absorpsi (pitat, tanin dan polifenol) sedangkan zat pemicunya sedikit (Gibney, 2008).
f.     Patofisiologi anemia dalam kehamilan
            Barbara (2005), menyakatan :
1)   Kadar hemoglobin untuk wanita tidak hamil biasanya adalah 13,5 g/Dl. Namun hemoglobin selama trimester kedua dan ketiga kehamilan berkisar 11,6 g/ dl sebagai akibat pengenceran darah ibu karena peningkatan volume plasma. Ini disebut sebagai anemia fisiologi dan merupakan keadaan yang normal selama kehamilan.
2)   Selama kehamilan, zat besi tidak dapat dipenuhi secara adekuat dalam makanan sehari – hari. Zat makanan seperti susu, teh, dan kopi, menurunkan absorpsi besi. Selama kehamilan, tambahan zat besi diperlukan untuk meningkatkan sel – sel darah merah ibu dan transfer ke janin untuk menyimpan dan produksi sel – sel darah merah. Janin harus menyimpan cukup zat besi pada 4 sampai 6 bulan terakhir setelah kelahiran.
3)   Selama trimester ketiga, jika asupan besi wanita tersebut tidak memadai, hemoglobinnya tidak akan meningkat sampai nilai 12,5 g / dl dan dapat terjadi anemia karena nutrisi. Ini akan mengakibatkan penurunan transfer zat besi ke janin.
4)   Hemoglobinopati, seperti thalasemia, penyakit sel sabit mengakibatkan anemia melalui hemolisis atau peningkatan penghancuran sel – sel darah merah.


g.    Diagnosis anemia dalam kehamilan
Untuk menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dengan anamnesa. Pemeriksaan dan pengawasan hemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan hemoglobin dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
9)   Hb 11gr%                      : tidak anemia
10)     Hb 9-10gr%                : anemia ringan
11)     Hb 7-8gr%                  : anemia sedang
12)     Hb < 7gr%                  : anemia berat
Pemeriksaan Hb dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III., dengan pertimbangan bahwa besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat besi sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di Puskesmas (Manuaba, 2010).
h.    Akibat anemia kehamilan
Atika (2009), akibat yang akan terjadi pada anemia kehamilan adalah :
1)   Hamil muda (trimester pertama) : abortus, missed abortus, dan kelainan congenital.
2)   Trimester kedua : persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin, dalam rahim, asphixia intrauterin samapi kematian, berat badan lahir rendah (BBLR), gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah, dekompensatio kordiskematian ibu.
3)   Saat inpartu : gangguan his primer dan sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan tinggi, ibu cepat lelah, gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif.
4)   Pascapartus : ormon uteri menyebabkan perdarahan, retensio ormone (plasenta adhesive, plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta), perlukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris peurperalis, gangguan involusi uteri, kematian ibu tinggi (perdarahan, infeksi peurperalis, gestosis).
i.      Pencegahan dan pengobatan anemia dalam kehamilan
1)      Pencegahan anemia dalam kehamilan
Untuk mencegah terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data dasar kesehatan ibu tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui adanya infeksi parasit.
   Untuk daerah dengan frekuensi anemia kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita hamil diberi sulfas ferrous atau glukonat ferrosus 1 tablet sehari. Selain itu, wanita dinasehatkan pula untuk mengkonsumsi lebih banyak protein, mineral dan vitamin. Makanan yang kaya zat besi antara lain kuning telur, ikan segar dan kering, hati daging, kacang – kacangan dan sayuran hijau. Makanan yang kaya akan asam folat yaitu daun singkong, bayam, sawi hijau, sedangkan makanan yang mengandung vitamin C adalah jeruk tomat, mangga, pepaya dan lain – lain ( Wiknjosastro, 2006).
2)      Penanganan anemia dalam kehamilan
a)      Anemia ringan
Dengan kadar Hemoglobin (Hb) 9 – 10 gr% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg/hari besi dan 400 mg asam folat peroral sekali sehari (Arisman, 2006).
b)      Anemia sedang
Pengobatan dengan kombinasi 120 mg zat besi dan 500 mg asam folat peroral sekali sehari (Arisman, 2006).
c)      Anemia berat
Pemberian preparat parental yaitu dengan fero dextrin sebanyak 1000 mg (20ml) intravena atau 2 x 10 ml intramuskuler. Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin (Sarwono, 2008).





Tidak ada komentar: