1.
Anemia Kehamilan
a. Definisi
Anemia
dalam kehamilan didefinisikan sebagai penurunan kadar hemoglobin
kurang dari 11 g/dl selama masa kehamilan pada trimester 1 dan ke 3 dan kurang
dari 10 g/dl selama masa post partum dan trimester 2 (Proverawati, 2009).
Anemia adalah keadaan di mana jumlah
eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobin menurun. Sebagai akibatnya,
ada penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Selama
kehamilan, anemia lazim terjadi dan biasanya disebabkan oleh defisiensi besi,
sekunder terhadap kehilangan darah sebelumnya atau masukan besi yang tidak
adekuat.
b. Klasifikasi Anemia Kehamilan
1)
Anemia
Defisiensi Besi sebanyak 62,3%
Anemia
defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam
darah.
2)
Anemia
Megaloblastik sebanyak 29%
Anemia ini
disebabkan karena defisiensi asam folat (pterylglutamic acid) dan defisiensi
vitamin B12 walaupun jarang.
3)
Anemia
Hipolastik dan Aplastik sebanyak 8%
Anemia
disebabkan karena sumsum tulang belakang kurang mampu membuat sel - sel darah
baru.
4)
Anemia
hemolitik sebanyak 0,7%
Anemia
disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari
pada pembuatanya.
c. Etiologi
Anemia dalam kehamilan
Menurut
Marmi (2011), faktor-faktor yang mempengaruhi anemia pada
umumnya adalah :
1)
Kurang
gizi (malnutrisi)
2)
Kurang
zat besi dalam diet
3)
Malabsorpsi
4)
Kehilangan
darah yang banyak : persalinan yang lalu, haid, dan lain-lain
5)
Penyakit-penyakit
kronik : TBC, paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain.
d.
Tanda
dan Gejala Anemia
Tanda
gejala ibu hamil yang mengalami anemia antara lain : ibu mengeluh lemah, pucat,
mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu dicurigai anemia
defisiensi (Sarwono, 2009)
Anemia dapat menyebabkan tanda dan
gejala (Varney, 2006) yaitu :
1)
Letih,
sering mengantuk, malaise
2)
Pusing,
lemah
3)
Nyeri
kepala
4)
Luka
pada lidah
5)
Kulit
pucat
6)
Membran
mukosa pucat (misal conjungtiva)
7)
Bantalan
kuku pucat
8)
Tidak
ada nafsu makan, mual dan muntah
e. Faktor risiko terjadi anemia pada ibu hamil
1) Asupan
zat besi yang rendah
Ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat
besi yang masuk ke dalam tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat besi. Kurangnya
jumlah besi total dalam makanan dan kualitas besi yang tidak baik di mana bahan
makanan yang dikonsumsi banyak mengandung serat, rendah besi, rendah vitamin C,
rendah folat dan rendah riboflavin. Kehilangan nafsu makan dan ketidak
keteraturan mengkonsumsi suplementasi tablet besi merupakan penyebab asupan zat
besi yang rendah (Kraemer and Zimmermann, 2007).
2) Kehilangan
besi
Insidens diare terutama terjadi pada kebanyakan negara
berkembang yang cukup tinggi, infeksi cacing tambang, skistosomiasis,
menimbulkan defisiensi besi juga malabsorbsi zat besi. Serangan malaria yang
berulang di daerah endemik malaria, dapat menimbulkan anemia karena defisiensi
zat besi. Penyakit malaria pada ibu hamil yang menderita anemia defisiensi zat
besi dapat memperparah derajat anemianya (Kraemer and Zimmermann, 2007).
3) Peningkatan
kebutuhan zat besi
Terdapat peningkatan kebutuhan zat besi selama masa
kehamilan. Meningkatnya kebutuhan zat besi selama kehamilan untuk memenuhi
kebutuhan pertumbuhan fetus, pertumbuhan plasenta, dan peningkatan
jumlah sel darah merah ibu (Arisman, 2004). Kebutuhan zat besi meningkat secara
linier sesuai dengan umur kehamilan. Selama kehamilan, jumlah rata-rata
kebutuhan zat besi ibu hamil sekitar 840 mg. Sekitar 350 mg besi ditransfer ke
janin dan plasenta, dan 450 mg besi untuk pertambahan eritrosit maternal, karena
itu seorang ibu hamil diperkirakan membutuhkan 5,6 mg zat besi setiap hari
selama trimester II-III kehamilannya (Seri Ani, 2013).
4) Gangguan
absorbsi besi
Gangguan absorbsi besi disebabkan oleh tropical sprue atau
colitis kronis dan seseorang yang telah
mengalami gastrektomi (Seri Ani, 2013). Bahan makanan penduduk negara
berkembang banyak berasal dari sumber nabati dengan bioavailabilitas yang
rendah dan memiliki absorbsi zat besi yang buruk, banyak mengandung zat
penghambat absorpsi (pitat, tanin dan polifenol) sedangkan zat pemicunya
sedikit (Gibney, 2008).
f.
Patofisiologi
anemia dalam kehamilan
Barbara (2005), menyakatan :
1)
Kadar
hemoglobin untuk wanita tidak hamil biasanya adalah 13,5 g/Dl. Namun hemoglobin
selama trimester kedua dan ketiga kehamilan berkisar 11,6 g/ dl sebagai akibat
pengenceran darah ibu karena peningkatan volume plasma. Ini disebut sebagai
anemia fisiologi dan merupakan keadaan yang normal selama kehamilan.
2)
Selama
kehamilan, zat besi tidak dapat dipenuhi secara adekuat dalam makanan sehari –
hari. Zat makanan seperti susu, teh, dan kopi, menurunkan absorpsi besi. Selama
kehamilan, tambahan zat besi diperlukan untuk meningkatkan sel – sel darah
merah ibu dan transfer ke janin untuk menyimpan dan produksi sel – sel darah
merah. Janin harus menyimpan cukup zat besi pada 4 sampai 6 bulan terakhir
setelah kelahiran.
3)
Selama
trimester ketiga, jika asupan besi wanita tersebut tidak memadai, hemoglobinnya
tidak akan meningkat sampai nilai 12,5 g / dl dan dapat terjadi anemia karena
nutrisi. Ini akan mengakibatkan penurunan transfer zat besi ke janin.
4)
Hemoglobinopati,
seperti thalasemia, penyakit sel sabit mengakibatkan anemia melalui hemolisis
atau peningkatan penghancuran sel – sel darah merah.
g.
Diagnosis anemia dalam kehamilan
Untuk
menegakkan diagnosis anemia kehamilan dapat dengan anamnesa. Pemeriksaan dan
pengawasan hemoglobin dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil
pemeriksaan hemoglobin dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
9)
Hb
11gr% : tidak anemia
10)
Hb
9-10gr% : anemia ringan
11)
Hb
7-8gr% : anemia sedang
12)
Hb
< 7gr% : anemia berat
Pemeriksaan Hb dilakukan minimal dua kali selama
kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III., dengan
pertimbangan bahwa besar ibu hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian
preparat besi sebanyak 90 tablet pada ibu-ibu hamil di Puskesmas (Manuaba, 2010).
h.
Akibat
anemia kehamilan
Atika (2009), akibat yang akan terjadi pada anemia
kehamilan adalah :
1)
Hamil
muda (trimester pertama) : abortus, missed abortus, dan kelainan congenital.
2)
Trimester
kedua : persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin,
dalam rahim, asphixia intrauterin samapi kematian, berat badan lahir rendah
(BBLR), gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah, dekompensatio kordiskematian
ibu.
3)
Saat
inpartu : gangguan his primer dan sekunder, janin lahir dengan anemia,
persalinan dengan tindakan tinggi, ibu cepat lelah, gangguan perjalanan
persalinan perlu tindakan operatif.
4)
Pascapartus
: ormon uteri menyebabkan perdarahan, retensio ormone (plasenta adhesive,
plasenta akreta, plasenta inkreta, plasenta perkreta), perlukaan sukar sembuh,
mudah terjadi febris peurperalis, gangguan involusi uteri, kematian ibu tinggi
(perdarahan, infeksi peurperalis, gestosis).
i.
Pencegahan
dan pengobatan anemia dalam kehamilan
1)
Pencegahan
anemia dalam kehamilan
Untuk mencegah terjadinya anemia
sebaiknya ibu hamil melakukan pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat
diketahui data dasar kesehatan ibu tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan
disertai pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan tinja sehingga diketahui
adanya infeksi parasit.
Untuk
daerah dengan frekuensi anemia kehamilan yang tinggi sebaiknya setiap wanita
hamil diberi sulfas ferrous atau glukonat ferrosus 1 tablet sehari. Selain itu,
wanita dinasehatkan pula untuk mengkonsumsi lebih banyak protein, mineral dan
vitamin. Makanan yang kaya zat besi antara lain kuning telur, ikan segar dan
kering, hati daging, kacang – kacangan dan sayuran hijau. Makanan yang kaya
akan asam folat yaitu daun singkong, bayam, sawi hijau, sedangkan makanan yang
mengandung vitamin C adalah jeruk tomat, mangga, pepaya dan lain – lain (
Wiknjosastro, 2006).
2)
Penanganan
anemia dalam kehamilan
a)
Anemia
ringan
Dengan kadar Hemoglobin (Hb) 9 – 10 gr% masih
dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg/hari besi dan
400 mg asam folat peroral sekali sehari (Arisman, 2006).
b)
Anemia
sedang
Pengobatan dengan kombinasi 120 mg zat besi dan 500
mg asam folat peroral sekali sehari (Arisman, 2006).
c)
Anemia
berat
Pemberian preparat parental yaitu dengan fero
dextrin sebanyak 1000 mg (20ml) intravena atau 2 x 10 ml intramuskuler.
Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang
diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin (Sarwono, 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar