Assalamualaikum, Wr. Wb


Sabtu, 27 September 2014



A.    Teori Kejang Demam
1.      Pengertian
Kejang demam adalah kejang yang dihubungkan dengan suatu penyakit yang dicirikan dengan demam tinggi ( suhu 38,9 C – 40,0 C) . Kejang demam berlangsung kurang dari 15 menit, generalisata, dan terjadi pada anak- anak tanpa kecacatan neurologik (Marry, 2005).   
Kejang demam ( febrile seizure) merupakan kejang tonik-klonik yang menyeluruh disertai demam, sumber panas itu sendiri berada diluar sistem saraf pusat (Kathleen, 2008)
Kejang demam adalah  Kejang umum yang memiliki pencetus dan terjadi pada penyakit demam akut ada anak yang sehat (william, M.  2005). Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu rektal lebih dari 38 C) yang disebabkan oleh suatu proses step (bulan, ayu.  2010).
2.      Etiologi
Menurut Mary (2005), etilogi kejang demam sendiri belum diketahui. Kejang demam biasanya dikaitkan dengan infeksi saluran pernafasan atas, infeksi saluran kemih, dan raseola.
Menurut Lumbantobing (2007),  etiologi kejang demam adalah:
a.       Demam itu sendiri, demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan, otitis media, pneumonia, gastroentritis dan infeksi saluran kemih.
b.      Efek produk toksik dari pada mikroorganisme.
c.       Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
d.      Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
e.       Ensefalitis viral ( radang otak akibat virus ) yang ringan 
3.      Patofisiologi
Menurut Marry (2005),  patofisiologi kejang demam adalah :
a.       Umumnya, kejang dicirikan dengan pola tonik-klonik aktif. Biasanya berlangsung tidak lebih dari 1 menit dan dikaitkan dengan kondisi akut penyakit demam yang tidak berbahaya.
b.      Kejang biasanya terjadi sebagai akibat peningkatan suhu yang cepat, diawali dengan demam.
c.       Kejang demam dianggap tidak berbahaya apabila masalah fisik dan neurologik yang mendasarinya telah diatasi.
4.      Faktor resiko yang berhubungan dengan kejang demam
a.       Faktor umur
Faktor umur merupakan salah satu faktor resiko utama yang berhubungan dengan kejang demam karena hal ini erat kaitannya dengan kematangan otak, tingkat kematangan otak dalam bidang anatomi, fisiologi dan biokimiawi otak  (Lumbantobing, 2007).
Tahap perkembangan otak dibagi menjadi 6 fase,  neurulasi, perkembangan prosensefali,  proloferasi neuron,  organisasi dan  mielinisasi. Tahapan perkembangan otak intrauteri dimulai pada fase neurulasi sampai migrasi neural. Fase perkembangan organisasi dan mielinisasi masih berlanjut sampai bertahun-tahun sampai pascanatal. Sehingga kejang demam terjadi pada fase perkembangan tahap organisasi sampai mielinisasi. Fase perkembangan otak merupakan fase yang rawan apabila mengalami bangkitan kejang terutama fase perkembangan organisasi meliputi: diferensiasi dan pemantapan neuron pada subplate, pencocokan, orientasi, dan peletakan neuron pada korteks,  pembentukkan cabang neurit dan dendrit,  pemantapan kontak di sinapsis, kematian sel terprogram, proliferasi dan diferensiasi sel glia. Pada proses diferensiasi dan pemantapan neuron pada subplate, terjadi diferensiasi neurotransmitor eksitator dan inhibitor. Pembentukan reseptor untuk eksitator lebih awal dibandingkan inhibitor. Pada proses pembentukkan cabang-cabang akson ( dendrit dan neurit ) serta pembentukan sinapsis, terjadi kematian sel terprogram dan plastisitas.Terjadi proses eliminasi sel neuron yang tidak terpakai. Sinapsis yang dieleminasi sekitar 40%. Proses ini disebut regeresif.Sel neuron yang tidak terkena proses kematian program bahkan terjadi pembentukan sel baru disebut palstisitas. Proses tersebut terjadi sampai anak berusia 2 tahun. Apabila masa proses regresif terjadi bangkitan kejang demam  dapat mengakibtakan trauma pada sel neuron sehingga mengakibatkan modifikasi proses regresif. Apabila pada fase organisasi ini terjadi rangsangan berulang-ulang seperti kejang demam akan mengakibatkan aberran palstisity, yaitu penurunan fungsi GABA-ergic dan desensitisasi reseptor GABA dan serta sensitisasi reseptor esksitator. Pada keadaan otak belum matang, reseptor untuk asam glutamat sebgaai reseptor eksitator padat dan aktif, sebaliknya reseptor GABA sebagai inhibitor kurang aktif, sehingga otak belum matang eksitasi lebih dominan dibanding inhibisi. Corticotropin realising hormon (CRH) merupakan neuropeptid eksitator, berpotensi sebagai prokonvulsan. Pada otak belum matang kadar CRH di hipokampus tinggi. Kadar CRH tinggi di hipokampus berpotensi untuk terjadi bangkitan kejang apabila terpicu oleh demam. Mekanisme homeostatis pada otak belum matang atau masih lemah, akan berubah sejalan dengan perkembangan otak dan pertambahan usia, meningkatkan eksitabilitas neuron. Atas dasar uraian di atas, pada masa otak belum matang mempunyai eksitabilitas neural lebih tinggi dibandingkan otak yang sudah matang. Pada masa ini disebut developtmental window dan rentan terhadap bangkitan kejang. Eksitator lebih dominan dibandingkan inhibitor sehingga tidak ada keseimbangan antara eksitator dan inhibitor. Anak mendapat serangan bangkitan kejang pada usia awal developmental window mempunyai waktu lebih lama fase eskitabilitas neural dibandingkan anak yang mendapatkan serangan kejang demam pada usia akhir masa developmental window. Apabila anak mengalami stimulasi demam pada otak fase ekstabilitas akan mudah terjadi bangkitan kejang. Developmental merupakan masa perkembangan otak fase organisasi yaitu pada waktu anak berusia kurang dari 2 tahun ( Soetomenggolo, 2007).
Umur dapat menentukan kemungkinan terjadinya penyakit tartentu sepanjang jangka hidup. Kerentanan terhadap infeksi berubah, bayi sangat rentan terhadap infeksi, lahir dengan hanya memiliki anti body dari ibu, sistem imunimatur bayi belum mampu menghasilkan immunoglobulin yang diperlukan. Kejang demam merupakan kelainan neorologis yg paling sering dijumpai pada anak, terutama pada golongan anak 6 bulan sampai 5 tahun ( Ngastiyah, 2005).
b.      Faktor suhu tubuh.
Demam apabila hasil pengukuran suhu tubuh mencapai diatas 37,8°C aksila atau 38°C rektal. Demam dapat disebabkan oleh berbagai sebab, tetapi pada anak tersering disebabkan oleh infeksi. Demam merupakan faktor utama timbul bangkitan kejang demam. Perubahan kenaikan temperatur tubuh berpengaruh terhadap nilai ambang kejang dan ekstabilitas neural, karena kenaikan suhu tubuh berpengaruh pada kanal ion dan metabolisme seluler serta produksi ATP. Setiap kenaikan suhu tubuh satu derajat celsius akan meningkatkan metabolisme karbohidrat 10-15% sehingga dengan adanya peningkatan suhu akan mengakibatkan peningkatan kebutuhan glukosa dan oksigen. Pada demam tinggi akan mengakibatkan hipoksia jaringan termasuk jaringan otak. Pada keadaan metabolisme di siklus skreb normal, satu molekul glukosa akan menghasilkan 38 ATP, sedangkan pada keadaan hipoksia jaringan metabolisme anaerob, satu molekul glukosa hanya akan menghasilkan 2 ATP, sehingga pada keadaan hipoksia akan kekurangan energi, hal ini akan mengganggu fungsi normal pompa Na+ dan reuptake asam glutamat oleh sel glia. Kedua hal tersebut mengakibatkan masuknya ion Na+ ke dalam sel meningkat dan timbunan asam glutamat ekstrasel. Timbunan asam glutamat ekstrasel akan mengakibatkan permeabilitas membran sel terhadap ion Na+ sehingga semakin meningkatkanmasuknya ion Na+ ke dalam sel. Masuknya ion Na+ ke dalam sel dipermudah dengan adanya demam, sebab demam akan meningkatkan mobilitas dan benturan ion terhadap membran sel. Perubahan konsentrasi ion Na+ intrasel dan ekstrasel tersebut akan mengakibatkan perubahan potensial membran sel neuron sehingga membran sel dalam keadaan depolarisasi. Selain itu demam dapat merusak neuron GABA-ergik sehingga fungsi inhibisi terganggu ( Abdoerrachman, 2007).
Friedrichsen dan Melchior dalam penelitiannya membagi anak yang demam dalam 2 kelompok yaitu yang mempunyai suhu dibawah 39°C dan yang di atasnya. Didapatkannya bahwa insiden kejang demam pada kelompok anak demam yang bersuhu dibawah 39°C adalah 24% dan di atas 39°C adalah 64%. Tingginya suhu tubuh pada keadaan demam sangat berpengaruh terjadinya bangkitan kejang demam karena pada suhu tubuh yang tinggi dapat meningkatkan metabolisme tubuh sehingga terjadi perbedaan potensial membran di otak yang akhirnya melepaskan muatan listrik dan menyebar ke seluruh tubuh  ( Lumbantobing, 2007 ).
c.       Faktor riwayat keluarga
Mekanisme peranan faktor riwayat keluarga pada terjadinya kejang demam terutama disebabkan oleh adanya mutasi gen-gen tertentu yang mempengaruhi esktabilitas ion-ion pada membran sel. Mekanisme yang mempengaruhi peristiwa tersebut sangat kompleks. Secara teoritis defek yang diturunkan pada tiap-tiap gen pengkode protein yang menyangkut ekstabilitas neuron dapat mencetuskan bangkitan kejang (Lumbantobing, 2007). Penelitian yang dilakukan oleh lumbantobing mendapatkan hasil bahwa 20-25% penderita kejang demam mempunyai riyawat keluarga yang juga pernah menderita kejang demam.
d.      Faktor usia saat ibu hamil
Menurut Soetomenggolo (2007), usia ibu pada saat hamil sangat menentukan status kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dapat mengakibatkan berbagai komplikasi kehamilan dan persalinan, komplikasi kehamilan diantaranya hipertensi dan eklampsia, sedangkan gangguan pada persalinan adalah trauma persalinan. Komplikasi kehamilan dan persalinan dapat menyebabkan prematuritas, bayi berat lahir rendah, penyulit persalinan dan partus lama. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan janin dengan asfiksia. Pada asfiksia terjadi hipoksia dan iskemia. Hipoksia dapat mengakibatkan rusaknya faktor inhibisi dan atau meningkatnya fungsi neuron eksitasi sehingga mudah timbul kejang bila ada rangsangan yang memadai.
e.       Lama demam sebelum kejang.
Makin pendek jarak antar mulainya demam dengan terjadinya kejang demam, makin besar risiko berulangnya kejang demam.
5.      Manifestasi Klinis
 Menurut Sujono (2009), manifestasi klinis yang muncul pada penderita kejang demam adalah :
a.       Suhu tubuh anak lebih dari 38°C.
b.      Timbul kejang yang bersifat tonik-klonik, klonik, fokal atau akinetik. Beberapa detik setelah kejang berhenti anak tidak memberikan reaksi apapun tetapi beberapa saat kemudian anak akan tersadar kembali tanpa ada kelainan persyarafan.
c.       Terjadi penurunan kesadaran.
Sedangkan menurut Mansjoer ( 2008 ), umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan kejang klonik atau tonik-klonik bilateral. Kejang yang lain juga terjadi seperti mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan, atau hanya sentakan atau kekakuan fokal.
Abdoerrachman (2007), mengklasifikasikan kejang demam menjadi:
1)      Kejang demam sederhana ( simple febrile seizures )
Merupakan kejang demam dengan karakteristik:
a)      Kejang demam yang berlangsung singkat, umumnya serangan  akan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 15 menit.
b)      Bangkitan kejang tonik atau tonik-klonik, tanpa gerakan fokal.
c)      Kejang akan terjadi dengan peningkatan suhu 37,8 0C sampai dengan 38 0C.
d)     Tidak berulang dalam waktu 24 jam, atau hanya terjadi sekali  dalam 24 jam.
e)      Keadaan nurologi normal dan setelah kejang juga tetap normal.
f)       EEG ( electro enchephalography-rekaman otak ) yang dibuat setelah tidak demam adalah normal.
2)      Kejang demam kompleks ( complex febrile seizures )
Merupakan kejang demam dengan karakteristik:
a)      Kejang berlangsung lama, lebih dari 15 menit.
b)      Kejang fokal (parsial satu sisi), atau kejang umum didahului kejang parsial lebih dar 1 kali dalam 24 jam.
c)      Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam dengan suhu dengan ambang kejang tinggi yaitu pada suhu 40 0C.
6.      Komplikasi
Komplikasi tergantung pada :
a.       Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga
b.      Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak menderita demam kejang
c.       Kejang berlangsung lama atau kejang tikal
Bila terdapat paling sedikit 2 atau 3 faktor tersebut diatas, maka dikemudian hari akan mengalami serangan kejang tanpa demam sekitar 13 % dibandingkan bila hanya 1 atau tidak ada sama sekali faktor tersebut. Serangan kejang tanpa demam hanya 2-3% saja. Hemiparesis biasanya terjadi pada klien yang mengalami kejang lama ( berlangsung lebih dari 30 menit) ( Ngastiyah, 2005).
Demam kejang sederhana menyebabkan kelainan pada IQ tetapi pada klien demam kejang yang sebelumnya telah terdapat gangguan perkembangan atau kelainan neurologist akan didapat IQ yang lebih rendah disbanding dengan saudaranya, jika demam kejang diikuti dengan terulangnya kejang tanpa demam, retardasi mental akan terjadi 5 kali lebih besar. Demam  kejang yang beralngsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga terjadi epilepsy.( Ngastiyah, 2005).
7.      Tata laksana untuk kejang
Penata laksanaan kejang demam menurut ( Widjaja, 2006) :
Jika anak sudah terlanjur menderita kejang demam, hindarilah rasa panik dan lakukan langkah – langkah pertolongan sebagai berikut :
a)      Bila anak mengalami kejang demam berusia di bawah enam bulan, tindakan yang harus dilakukan sebagai berikut :
a.       Telungkupkan dan palingkan wajahnya kesamping.
b.      Ganjal perutnya dengan bantal agar ia tidak tersedak.
c.       Lepaskan seluruh pakaiannya dan basahi tubuhnya dengan air hangat. Langkah ini diperlukan untuk membantu menurunkan suhu badannya.
d.      Bila anak muntah, bersihkanlah mulutnya dengan jari.
e.       Walaupun anak telah pulih kondisinya, sebaiknya tetap dibawa kedokter agar dapat ditangani lebih lanjut.
f.       Jangan mengabaikan gejala kejang demam dengan tidak membawanya kedokter. Dengan mempertimbangkan akibat yang dapat terjadi, anak yang menderita kejang demam harus memperoleh penanganan dokter sehingga keselamatannya dan kesehatannya senantiasa terjaga dengan baik.
b)      Bila anak balita yang mengalami kejang demam berusia lebih dari 6 bulan, tindakan dan prosedur yang harus dilakukan pada dasarnya sama dengan anak dibawah 6 bulan. Perbedaannya pada tindakan yang ditujukan pada mulut anak, yaitu harus diganjal dengan sendok yang sudah dibungkus perban. Tujuannya agar lidah nya tidak tergigit atau saluran pernapasannya tidak tersumbat.

Tidak ada komentar: